Gunung Api Ijen, ‘Si Cantik yang Berbahaya’

Wisata

Gunung Api Ijen, ‘Si Cantik yang Berbahaya’

News Polisi Desa | Selasa, 14 Januari 2014 - 14:30:50 WIB | dibaca: 197 pembaca

Banyuwangi, Poldes - Gunung api Ijen (G. Ijen) merupakan gunung api aktif yang memiliki danau kawah di puncak, dengan panjang dan lebar danau masing-masing sebesar 800 m dan 700 m serta kedalaman danau mencapai 180 m. Secara geografis G. Ijen berada pada posisi 8º 03’ 30” LS dan 114º 14’ 30” BT dengan tinggi puncaknya 2386 meter dari permukaan laut. Secara administratif terletak di dua Kabupaten, yaitu Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi, serta Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur. Erupsi G. Ijen yang tercatat dalam sejarah adalah berupa letusan-letusan freatik yang bersumber dari danau kawah. Erupsi freatik terakhir terjadi pada tahun 1993 menghasilkan tinggi kolom asap berwarna hitam yang mencapai ketinggian 1000 m.
Pada tanggal 8 Februari 2012, pukul 13:00 WIB, status kegiatan G. Ijen, diturunkan dari Siaga (Level III) menjadi Waspada (Level II). Pada tanggal 12 Maret 2012, pukul 14:00 WIB status kegiatan G. Ijen dinaikkan dari Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III). Pada tanggal 13 Mei 2012, pukul 20:00 WIB status kegiatan G. Ijen diturunkan dari Siaga (Level III) menjadi Waspada (Level II), dan Sejak 24 Juli 2012 pukul 14:00 WIB status kegiatan G. Ijen dinaikkan dari Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III).
Potensi bahaya erupsi G. Ijen pada Kawasan Rawan Bencana III adalah di sekitar danau kawah terlanda ancaman aliran gas racun, aliran awan panas, lumpur panas, aliran lava, hujan abu lebat dan lahar letusan. Potensi bahaya erupsi G. Ijen pada Kawasan  Rawan Bencana II adalah potensi terlanda aliran awan panas, lahar letusan, lahar hujan, hujan abu lebat, kemungkinan longsoran puing vulkanik dan lontaran batu pijar.Potensi bahaya erupsi G. Ijen pada Kawasan Rawan bencana I adalah potensi terlanda aliran lahar hujan, kemungkinan perluasan awan panas atau lahar letusan, hujan abu lebat, kemungkinan dapat terkena lontaran batu pijar.
Gunung Ijen merupakan salah satu gunung api aktif yang memiliki danau kawah dan penghasil sublimasi belerang yang cukup besar, disamping itu pandangan yang luar biasa yaitu komplek blue fire (api biru) yang bisa dinikmati pada malam hari. Tentang gambaran terjadinya   blue fire  (api biru) , Kawah  Ijen  mempunyai  komplek lubang fumarola yang cukup besar dengan terperatur lk. 600 derajad celcius. fumarola terjadi karena ada uap dan gas sedang solfatara terjadi  kandungan gas SO2 dan H2S dengan volume cukup banyak lalu  keluar  ke permukaan bumi  bercampur dengan udara dengan tekanan cukup kuat maka terjadi sublimasi belerang,maka solfatara bisa  juga disebut lubang keluarnya belerang dan ini adanya hanya di gunung api.
    Blue Fire  (api biru) yang berada di Kawah Ijen  terjadi karena lubang solfatara dengan temperature  cukup  panas (lk 600 derajad celcius) membakar belerang yang berada didekat lubang solfatara sedangkan batu  belerang  (diambil penambang) terjadi  dengan temperature  160 – 200 derajad ,makanya untuk mendapatkan batu belerang diatur dengan  pipa (mengatur suhu).
Di dasar kawahpun sebenarnya juga menghasilkan belerang cukup besar hal bisa diketahui dengan menggunakan alat (eco sonding).
Gambar  diatas ini  menunjukkan adanya lubang solfatara yang cukup besar di dasar kawah, solfatara ini memuncratkan tekanan  tinggi  hingga lk 140 meter  dan  lebar 40 meter. Disamping  hal tersebut diatas  gunung ijen,  mempunyai  panorama yang indah. Makanya tidak heran  kalau  gunung ijen, menjadi salah satu tujuan wisata  bagi wisatawan mancanegara dan domestic, ‘Sangat cantik tetapi juga membahayakan’.
Sehubungan dengan status tersebut, maka Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi terus meningkatkan pemantauan secara intensif guna melakukan evaluasi kegiatan G. Ijen dan dikoordinasikan dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
    Mengingat status kegiatan G. Ijen Siaga, maka pihak Vulacanologi (pengamatan G. Api/Ijen) merekomendasikan agar masyarakat di sekitar G. Ijen dan pengunjung/wisatawan/pendaki/penambang tidak diperbolehkan mendekati kawah yang ada di puncak G. Ijen dalam radius 1,5 km dari kawah aktif. Selain itu, masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar G. Ijen dalam KRB II untuk selalu waspada dan tetap memperhatikan perkembangan kegiatan G. Ijen yang dikeluarkan oleh BPBD setempat. Sedangkan masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran Sungai Banyuputih yang berhulu di danau Kawah Ijen tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya luapan air danau kawah ijen apabila terjadi letusan G. Ijen.
    Namun demikian, pihak Vulakanologi melalui Kepala Pos Gunung Api /Ijen, Bambang Heri Purwanto, meminta agar masyarakat di sekitar G. Ijen diharap tenang, tidak terpancing isyu-isyu tentang letusan G. Ijen dan agar selalu mengikuti arahan dari BPBD setempat.”Kami dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi selalu berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan  BPBD Kabupaten Bondowoso, BPBD Kabupaten Situbondo serta BPBD Kabupaten Banyuwangi.”Selain itu, kami juga meminta agar BPBD Kabupaten Bondowoso, Situbondo dan Banyuwangi senantiasa berkoordinasi dengan Pos Pengamatan G. Ijen di Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi atau dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung,” urai Bambang Heri Purwanto, yang selama ini mengaku selalu berkoordinasi dengan ‘Mbah Rono’ itu. (kim)




« Peran Babinsa Dalam Menjaga Keamanan Desa Siap Amankan Kawasan Perbatasan Jember – Banyuwangi »


Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar